15 Mei 2014

GOOD CORPORATE GOVERNANCE

Istilah tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG) mengemuka setelah “krisis moneter” yang terjadi di Indonesia pada tahun 1988 yang berdampak dalam bidang perbankan. Terjadinya pelanggaran batas maksimum pemberian kredit (BMPK), rendahnya praktek manajemen risiko, tidak adanya transparansi terhadap informasi keuangan, merosotnya nilai tukar rupiah dan adanya dominasi para pemegang saham dalam mengatur operasional menyebabkan industri perbankan nasional menjadi rapuh. Hal tersebut sebagai akibat belum dilaksanakannya secara maksimal praktek GCG di kalangan perbankan. Dengan melaksanakan konsep GCG, diharapkan tercipta suatu citra perbankan sebagai lembaga yang dapat dipercaya oleh Pemerintah dalam mengelola dana masyarakat. Artinya ada keyakinan bahwa bisnis perbankan dikelola dengan baik sehingga dapat tumbuh secara sehat, kuat dan efisien.

Isu tata kelola perusahaan yang baik (GCG) terjadi karena adanya pemisahan antara kepemilikan dan pengelolaan perusahaan yang memberikan kewenangan kepada direksi untuk mengurus perusahaan, seperti mengelola dana dan mengambil keputusan perusahaan atas nama pemilik. Salah satu wujud konkrit pelaksanaan GCG adalah adanya penerapan prinsip transparansi dalam pengelolaan berdasarkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.8/4/PBI/2006 tentang Pelaksanaan Praktek Good Corporate Governance bagi Bank Umum. Bank mempunyai peranan yang sangat besar dalam kehidupan perekonomian, sebagai pelaksana kebijakan moneter dan menghimpun dana dalam jumlah yang besar dari masyarakat. Oleh karena itu, pelaksanaan prinsip transparansi pada bank menjadi peranan yang sangat penting dan patut menjadi perhatian bagi stakeholders, komisaris, direksi maupun pembina dan pengawas bank (Otoritas Jasa Keuangan/OJK).

Kepercayaan masyarakat terhadap manajemen bank selain bergantung pada kinerja dan kemampuan dalam mengelola risiko, juga dituntut sikap profesionalisme, independensi dan integritas serta transparansi atas informasi yang berkaitan dengan kondisi keuangan maupun non keuangan, dengan tidak sama sekali mengurangi kewajiban untuk memenuhi ketentuan kerahasiaan Bank sesuai peraturan yang berlaku. Perwujudan dari pemikiran tersebut hanya dapat dilaksanakan apabila Bank dalam melakukan aktivitasnya senantiasa menerapkan prinsip-prinsip GCG meliputi :

1. Transparansi (transparency) atau keterbukaan dalam mengemukakan informasi yang material
    dan relevan serta keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan keputusan.
2. Akuntabilitas (accountability), yaitu kejelasan fungsi dan pelaksanaan pengelolaan manajerial
    berjalan secara efektif.
3. Pertanggungjawaban (responsibility) atau kesesuaian pengelolaan bank dengan peraturan
    perundang undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip pengelolaan bank yang sehat.
4. Independensi (independency) yaitu pengelolaan bank secara profesional tanpa
    pengaruh/tekanan dari pihak manapun.
5. Kewajaran (fairness) adalah keadilan dan kesetaraan dalam memenuhi hak-hak stakeholder
    yang timbul berdasarkan perjanjian dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Namun, dengan beragam interpretasi dan pengertian yang dikemukakan oleh cendekia maupun praktisi perbankan yang ada, sebenarnya inti dan pesan Good Corporate Governance atau tatakelola perusahaan yang baik adalah “transparansi”, “moral” dan “etika” yang disertai dengan kepatutan dan kerangka hukum.

Penerapan Good Corporate Governance Pada Perbankan

Bank wajib melaksanakan prinsip-prinsip GCG dalam setiap kegiatan usahanya pada seluruh tingkatan atau jenjang organisasi termasuk pada saat penyusunan visi, misi, rencana strategis, pelaksanaan kebijakan dan langkah-langkah pengawasan internal. Cakupan penerapan prinsip-prinsip GCG dimaksud paling kurang harus diwujudkan dalam:

  1. Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Dewan Komisaris dan Direksi;
  2. Kelengkapan dan pelaksanaan tugas komite-komite dan satuan kerja yang menjalankan fungsi pengendalian intern bank;
  3. Penerapan fungsi kepatuhan, auditor internal dan auditor eksternal;
  4. Penerapan manajemen risiko, termasuk sistem pengendalian intern;
  5. Penyediaan dana kepada pihak terkait dan penyediaan dana besar;
  6. Rencana strategis Bank;
  7. Transparansi kondisi keuangan dan non keuangan Bank.

Mengingat tujuan pelaksanaan GCG adalah untuk memberikan nilai perusahaan yang maksimal bagi para Stakeholder maka prinsip-prinsip GCG tersebut harus juga diwujudkan dalam hubungan Bank dengan para Stakeholder.  Secara singkat cakupan penerapan GCG tersebut diuraikan sebagai berikut:

 

A.  STRUKTUR ORGANISASI GOOD CORPORATE GOVERNANCE

Struktur Organisasi GCG secara garis besar adalah terdiri dari:

  1. Rapat Umum Pemegang Saham
  2. Dewan Komisaris
  3. Direksi
  4. Komite-Komite dibawah Dewan Komisaris
  5. Satuan Kerja Kepatuhan
  6. Satuan Kerja Audit Intern
  7. Audit Ekstern
  8. Satuan Kerja Manajemen Risiko
  9. Stakeholders

Berdasarkan hal tersebut, secara umum struktur organisasi GCG pada bank dapat digambarkan dalam struktur sebagai berikutt

A.1. RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham)

Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) adalah organ yang memegang kekuasaan tertinggi dalam Bank dan memegang segala wewenang yang tidak diserahkan kepada Direksi dan Komisaris dalam batas yang ditentukan dalam Undang-Undang tentang Perseroan Terbatas dan Anggaran Dasar Bank yang berlaku. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) merupakan forum dimana Direksi dan Komisaris melaporkan dan bertanggungjawab atas kinerja mereka terhadap Pemegang Saham.

A.2. Dewan Komisaris

Jumlah anggota dewan Komisaris paling banyak sama dengan jumlah anggota Direksi. Paling kurang 1 (satu) orang anggota dewan Komisaris wajib berdomisili di Indonesia. Dewan Komisaris terdiri dari Komisaris dan Komisaris Independen dan paling kurang 50% (lima puluh perseratus) dari jumlah anggota dewan Komisaris adalah Komisaris Independen.

A.3.Direksi

Direksi dipimpin oleh Direktur Utama dan wajib berasal dari pihak yang independen terhadap pemegang saham pengendali. Penilaian independensi didasarkan pada keterkaitan yang bersangkutan pada kepengurusan, kepemilikan dan/atau hubungan keuangan, serta hubungan keluarga dengan pemegang saham pengendali. Setiap usulan penggantian dan/atau pengangkatan anggota Direksi oleh Dewan Komisaris kepada Rapat Umum Pemegang Saham, harus memperhatikan rekomendasi Komite Remunerasi dan Nominasi.

Mayoritas anggota Direksi paling kurang memiliki pengalaman 5 (lima) tahun di bidang operasional sebagai Pejabat Eksekutif bank (tidak termasuk Bank Perkreditan Rakyat). Setiap anggota Direksi harus memenuhi persyaratan telah lulus Penilaian Kemampuan dan Kepatutan (Fit and Proper Test) sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia tentang Penilaian Kemampuan dan Kepatutan (Fit and Proper Test).

 

B. KOMITE – KOMITE

Dalam rangka mendukung efektivitas pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya, Dewan Komisaris dibantu oleh sekurang-kurangnya:

a. Komite Audit;

b. Komite Pemantau Risiko;

c. Komite Remunerasi dan Nominasi.

Komite tersebut wajib menyusun pedoman dan tata tertib kerja komite.

 

C. FUNGSI KEPATUHAN

Bank wajib memastikan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan Bank Indonesia dan peraturan perundang-undangan lainnya yang berlaku.

Dalam rangka memastikan kepatuhan, Bank wajib menunjuk seorang Direktur Kepatuhan dengan berpedoman pada persyaratan dan tata cara sebagaimana diatur dalam ketentuan Bank Indonesia tentang Penugasan Direktur Kepatuhan (Compliance Director) dan Penerapan Standar Pelaksanaan Fungsi Audit Intern Bank Umum.

C.1.Satuan Kerja Kepatuhan

  • Dalam rangka membantu pelaksanaan fungsi Direktur Kepatuhan secara efektif, Bank membentuk satuan kerja kepatuhan (compliance unit) yang independen terhadap satuan kerja operasional.
  • Dalam melaksanakan tugasnya tersebut Direktur Kepatuhan wajib mencegah direksi Bank agar tidak menempuh kebijakan dan/atau menetapkan keputusan yang menyimpang dari peraturan Bank Indonesia dan peraturan perundang-undangan lain yang berlaku.
  • Direktur Kepatuhan wajib melaporkan pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya secara berkala kepada Direktur Utama dengan tembusan kepada Dewan Komisaris.

C.2 Fungsi Audit Intern

Dalam rangka pelaksanaan fungsi audit intern secara efektif, Bank wajib membentuk Satuan Kerja Audit Intern yang independen terhadap satuan kerja operasional. Dalam melaksanakan tugasnya SKAI menyampaikan laporan kepada Direktur Utama dan Dewan Komisaris dengan tembusan kepada Direktur Kepatuhan. Pemimpin SKAI diangkat dan diberhentikan oleh Direktur Utama Bank dengan persetujuan Dewan Komisaris.

C.3. Fungsi Audit Ekstern

  • Bank wajib menunjuk Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik yang terdaftar di Bank Indonesia dalam pelaksanaan audit laporan keuangan Bank.
  • Penunjukan Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik wajib terlebih dahulu memperoleh persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham berdasarkan calon yang diajukan oleh dewan Komisaris sesuai rekomendasi Komite Audit.
  • Audit dan penunjukan Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik wajib memenuhi ketentuan Bank Indonesia yang berlaku tentang Transparansi Kondisi Keuangan Bank.

 

D. PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO

Bank wajib menerapkan manajemen risiko secara efektif, yang disesuaikan dengan tujuan, kebijakan usaha, ukuran dan kompleksitas usaha serta Bank dengan berpedoman pada persyaratan dan tata cara sebagaimana ditetapkan dalam ketentuan Bank Indonesia tentang Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Umum.

D.1. Satuan Kerja Manajemen Risiko & Komite Manajemen Risiko

Dalam kaitan dengan pengembangan struktur organisasi yang ada, Bank wajib membentuk Komite Manajemen Risiko (Risk Management Committee) dan Satuan Kerja Manajemen Risiko (Risk Management Unit).

D.2.Pengendalian Intern

Pengendalian intern merupakan suatu mekanisme pengawasan yang ditetapkan oleh manajemen Bank secara berkesinambungan (on going basis), guna:

  • Menjaga dan mengamankan harta kekayaan Bank;
  • Menjamin tersedianya laporan yang lebih akurat;
  • Meningkatkan kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku;
  • Mengurangi dampak keuangan/kerugian, penyimpangan termasuk kecurangan/fraud, dan pelanggaran aspek kehati-hatian;
  • Meningkatkan efektivitas organisasi dan meningkatkan efisiensi biaya.

 

E.  PENYEDIAAN DANA KEPADA PIHAK TERKAIT DAN PENYEDIAAN DANA BESAR

Dalam rangka menghindari kegagalan usaha Bank sebagai akibat konsentrasi penyediaan dana dan meningkatkan independensi pengurus Bank terhadap potensi intervensi dari pihak terkait, Bank wajib menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyediaan dana antara lain dengan menerapkan penyebaran/diversifikasi portofolio penyediaan dana yang diberikan.

Pelaksanaan penyediaan dana kepada pihak terkait dan/atau penyediaan dana besar (large exposures) wajib berpedoman pada ketentuan Bank Indonesia tentang Batas Maksimum Pemberian Kredit Bank Umum. Dalam rangka penerapan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko Bank wajib memiliki pedoman kebijakan dan prosedur tertulis tentang Penyediaan Dana kepada Pihak Terkait dan atau Penyediaan Dana besar (large exposures).

E.1. Penyediaan Dana Kepada Pihak Terkait

Bank dilarang memberikan Penyediaan Dana kepada Pihak Terkait yang bertentangan dengan prosedur umum Penyediaan Dana yang berlaku. Bank dilarang memberikan Penyediaan Dana kepada Pihak Terkait tanpa persetujuan Dewan Komisaris Bank. Bank wajib menyampaikan kepada Bank Indonesia laporan mengenai: Transaksi antara Bank dengan Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa; Pemberian penyediaan dana, komitmen maupun fasilitas lain yang dapat dipersamakan dengan itu dari setiap perusahaan yang berada dalam satu kelompok usaha dengan Bank kepada debitur yang telah memperoleh penyediaan dana dari Bank. Laporan tersebut wajib disampaikan sesuai dengan jadwal dan batas waktu penyampaian Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan.

E.2. Penyediaan Dana Besar

Bank dilarang membuat suatu perikatan atau perjanjian atau menetapkan persyaratan yang mewajibkan Bank untuk memberikan Penyediaan Dana yang akan mengakibatkan terjadinya Pelanggaran BMPK; dan memberikan Penyediaan Dana yang mengakibatkan Pelanggaran BMPK. Penyediaan Dana ini mencakup bentuk perikatan atau perjanjian atau persyaratan yang ditetapkan untuk yang tercatat di neraca maupun rekening administratif.

 

F.    RENCANA STRATEGIS BANK

  • Bank wajib menyusun rencana strategis dalam bentuk rencana korporasi (corporate plan) / rencana jangka panjang dan rencana bisnis (business plan) / rencana jangka pendek.
  • Penyampaian rencana korporasi (corporate plan) dan perubahannya kepada Bank Indonesia berpedoman pada ketentuan Bank Indonesia tentang Bank Umum.
  • Penyusunan dan penyampaian rencana bisnis (business plan) berpedoman pada ketentuan Bank Indonesia tentang Rencana Bisnis Bank Umum.
  • Rencana korporasi /rencana jangka panjang Bank merupakan cerminan dari visi Bank.

 

G.   ASPEK TRANSPARANSI KONDISI BANK
Dalam rangka pelaksanaan transparansi kondisi keuangan dan nonkeuangan, Bank wajib menyusun dan menyajikan laporan dengan tata cara, jenis dan cakupan sebagaimana diatur dalam ketentuan Bank Indonesia tentang Transparansi Kondisi Keuangan Bank.

Selain hal tersebut, bank wajib melaksanakan transparansi informasi mengenai produk dan penggunaan data nasabah Bank dengan berpedoman pada persyaratan dan tata cara sebagaimana diatur dalam ketentuan Bank Indonesia tentang Transparansi Informasi Produk Bank dan Penggunaan Data Pribadi Nasabah. Namun demikian, dalam aktivitas transparansi dan pengungkapan (disclosure) kondisi Bank harus tetap memperhatikan dan mematuhi ketentuan tentang rahasia bank.

G.1. Transparansi Kondisi Keuangan dan Non-keuangan

Dalam rangka peningkatan transparansi kondisi keuangan, Bank wajib menyusun dan menyajikan laporan keuangan dengan bentuk dan cakupan sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Bank Indonesia ini.

G.2. Transparansi Informasi Produk Bank dan Penggunaan Data Pribadi Nasabah

Bank wajib menerapkan transparansi informasi mengenai Produk Bank dan penggunaan Data Pribadi Nasabah. Informasi mengenai karakteristik Produk Bank tersebut sekurang-kurangnya meliputi:

  • Nama Produk Bank;
  • Jenis Produk Bank;
  • Manfaat dan risiko yang melekat pada Produk Bank;
  • ­Persyaratan dan tata cara penggunaan Produk Bank;
  • Biaya-biaya yang melekat pada Produk Bank;
  • Perhitungan bunga atau bagi hasil dan margin keuntungan;
  • Jangka waktu berlakunya Produk Bank; dan
  • Penerbit (issuer/originator) Produk Bank;

 

Penggunaan Data Pribadi Nasabah bank wajib meminta persetujuan tertulis dari Nasabah dalam hal Bank akan memberikan dan atau menyebarluaskan Data Pribadi Nasabah kepada Pihak Lain untuk tujuan komersial, kecuali ditetapkan lain oleh peraturan perundang-undangan lain yang berlaku. Dalam permintaan persetujuan tersebut Bank wajib terlebih dahulu menjelaskan tujuan dan konsekuensi dari pemberian dan atau penyebarluasan Data Pribadi Nasabah kepada Pihak Lain.

 

H.  HUBUNGAN DENGAN STAKEHOLDERS

Bank memiliki sensitivitas untuk melakukan hubungan secara positif dengan financial maupun non-financial stakeholders, termasuk dengan pegawai Perseroan, masyarakat setempat, kepentingan lingkungan hidup, regulator (Bank Indonesia, Bapepam, BEJ dan BES) dan pemerintah.Pengaruh dari external stakeholders tidak boleh mengacaukan kegiatan operasi yang sudah direncanakan oleh Perseroan, sehingga diperlukan adanya penelitian yang cermat atas pengaruh positif dan negatif dari external stakeholders tersebut.

Komentar :

Penerapan GCG pada Perbankan ini bertujuan untuk meningkatkan kinerja Bank dengan menerapkan GCG dalam segala kegiatan Bank sejalan dengan visi, misi, dan rencana strategi usaha yang telah ditetapkan Bank.

PT Bank Yudha Bhakti Tbk

Gedung GOZCO

Jl. Raya Pasar Minggu Kav 32 Pancoran Jakarta Selatan 12780

Telp. (021) 2975-2975, 2975-2999

Fax. (021) 2975-2918

bi

ayo ke bank

lps

3p